Gen Z di dunia kerja Indonesia tidak bisa disederhanakan sebagai generasi malas atau generasi manja. Mereka masuk kerja di era biaya hidup tinggi, persaingan ketat, digitalisasi cepat, dan ketidakpastian karier. Namun, sebagian Gen Z juga tetap perlu belajar soal tahan proses, etika kerja, komunikasi, dan tanggung jawab profesional.
Gen Z Dicap Malas Kerja, Tapi Ini Realita yang Jarang Diungkap dari Sisi Mereka
Catatan sebelum membaca: artikel ini adalah opini berdasarkan pengamatan dunia kerja, bisnis, dan sales di Indonesia. Bukan pembelaan buta untuk Gen Z, tetapi juga bukan serangan kepada mereka. Setiap generasi punya sisi kuat dan sisi lemah.
Belakangan ini, Gen Z sering jadi bahan diskusi di dunia kerja. Ada yang bilang mereka sulit diatur, terlalu cepat menyebut lingkungan kerja toxic, gampang resign, terlalu perhitungan, dan belum apa-apa sudah menuntut banyak hak. Tapi apakah sesederhana itu? Menurut saya, tidak.
Saya Bukan Pembela Gen Z, Tapi Stigma Itu Terlalu Sederhana
Dalam dunia kerja Indonesia, terutama di bidang sales dan marketing, saya sering mendengar keluhan tentang karyawan muda. Katanya Gen Z susah ditekan target, cepat mengeluh, lebih sering bertanya hak dibanding kontribusi, dan tidak sekuat generasi sebelumnya.
Saya tidak akan langsung membantah semua kritik itu. Karena jujur saja, sebagian memang ada benarnya. Saya pernah melihat anak muda yang baru masuk kerja tetapi sudah ingin diperlakukan seperti senior. Ada yang belum membuktikan performa, tetapi sudah menuntut fleksibilitas tinggi. Ada juga yang terlalu cepat menyebut pekerjaan sebagai toxic hanya karena mendapat koreksi keras.
Namun, kalau kita berhenti di situ, analisisnya menjadi dangkal. Karena realita pekerjaan di Indonesia hari ini juga tidak mudah. Gaji awal tidak selalu cukup, biaya hidup naik, persaingan kerja ketat, jam kerja kadang melewati batas, dan teknologi membuat banyak pekerjaan terasa tidak aman.
Masalah Gen Z di dunia kerja bukan hanya soal mental anak muda. Masalahnya juga ada pada ketidakcocokan ekspektasi antara perusahaan lama, budaya kerja lama, dan generasi yang tumbuh di era digital dengan cara berpikir berbeda.
Realita Pekerjaan di Indonesia Tidak Bisa Diabaikan
Sebelum menilai Gen Z terlalu banyak menuntut, kita perlu melihat realita kerja di Indonesia. Banyak pekerja muda masuk ke pasar kerja dengan gaji entry-level yang tidak terlalu longgar. Mereka harus membayar kos, makan, transportasi, kuota internet, kebutuhan keluarga, cicilan, bahkan kadang membantu orang tua.
Di sisi lain, banyak perusahaan masih memakai cara kerja lama: lembur dianggap loyalitas, pulang tepat waktu dianggap kurang semangat, bertanya soal kompensasi dianggap tidak punya jiwa pejuang, dan menolak pekerjaan di luar jobdesk dianggap tidak mau berkembang.
Padahal, bagi pekerja muda, pertanyaan seperti “lemburnya dibayar atau tidak?”, “targetnya realistis atau tidak?”, dan “jobdesk-nya sampai mana?” bukan selalu tanda malas. Kadang itu tanda bahwa mereka sedang mencoba memahami batas kerja dengan lebih rasional.
Di tengah biaya hidup yang terus terasa berat, pekerja muda wajar ingin tahu apakah waktu, tenaga, dan target yang diberikan sebanding dengan kompensasi yang diterima.
Ada Kritik yang Memang Perlu Didengar Gen Z
Walaupun saya tidak setuju jika Gen Z disamaratakan sebagai generasi lemah, saya juga tidak ingin menutup mata. Ada beberapa hal yang memang perlu diperbaiki oleh sebagian pekerja muda.
Pertama, sebagian Gen Z perlu belajar bahwa dunia kerja tidak selalu nyaman. Feedback dari atasan tidak selalu berarti serangan pribadi. Target bukan selalu bentuk eksploitasi. Koreksi bukan selalu toxic. Dalam pekerjaan, terutama sales, tekanan adalah bagian dari proses.
Kedua, sebagian pekerja muda perlu memahami bahwa hak dan kontribusi harus berjalan bersama. Menanyakan hak itu boleh, tetapi membangun kompetensi juga wajib. Meminta lingkungan kerja sehat itu benar, tetapi menunjukkan performa juga penting.
Tapi Perusahaan Juga Harus Berhenti Memakai Standar Lama
Di sisi lain, perusahaan juga tidak bisa terus memaksakan standar lama tanpa evaluasi. Tidak semua budaya kerja keras masa lalu layak dipertahankan. Beberapa di antaranya mungkin sebenarnya hanya budaya kerja tidak sehat yang sudah terlalu lama dinormalisasi.
Misalnya, lembur tanpa kejelasan kompensasi, atasan yang marah-marah dengan alasan membentuk mental, jobdesk yang melebar tanpa batas, atau target yang naik terus tanpa dukungan alat dan pelatihan. Kalau hal seperti ini dikritik oleh Gen Z, kritiknya tidak selalu salah.
Perusahaan yang ingin menarik tenaga muda berkualitas harus mulai memperjelas ekspektasi. Apa targetnya? Bagaimana cara menilainya? Apa benefitnya? Bagaimana jalur berkembangnya? Sejauh mana fleksibilitas diberikan? Apa konsekuensi jika target tidak tercapai?
Gen Z bukan anti target. Mereka lebih sulit menerima target yang tidak jelas, aturan yang berubah-ubah, dan komunikasi atasan yang hanya menuntut tanpa memberi arah.
Gen Z di Dunia Sales: Tantangan dan Kelebihannya
Dalam dunia sales Indonesia, Gen Z punya tantangan besar. Sales bukan pekerjaan yang serba pasti. Hari ini semangat, belum tentu closing. Sudah follow up panjang, customer bisa hilang. Sudah presentasi bagus, bisa kalah diskon dengan kompetitor.
Bagi sebagian Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan digital, ritme sales lapangan bisa terasa melelahkan. Hasil tidak selalu instan. Penolakan datang berkali-kali. Target bisa menekan. Senior kadang berbicara terlalu keras. Customer tidak selalu sopan.
Namun, di sisi lain, Gen Z juga punya keunggulan yang sangat relevan untuk sales modern: mereka lebih akrab dengan media sosial, lebih cepat memahami tren konten, lebih natural menggunakan teknologi, dan lebih peka terhadap cara komunikasi yang tidak terlalu memaksa.
Sales Modern Butuh Cara Baru
Dulu sales sering identik dengan mengejar, menekan, dan meyakinkan customer secepat mungkin. Sekarang, banyak customer lebih suka diedukasi. Mereka ingin membandingkan sendiri, membaca review, bertanya di media sosial, dan mengambil keputusan setelah merasa percaya.
Di titik ini, Gen Z bisa unggul. Mereka lebih mudah membuat konten edukatif, memahami bahasa audiens digital, dan membangun relasi tanpa terlalu terlihat hard selling.
Gen Z mungkin tidak selalu cocok dengan gaya sales lama yang agresif. Tetapi mereka bisa sangat cocok dengan sales modern yang berbasis konten, edukasi, komunitas, kepercayaan, dan komunikasi digital.
Soal Mental Health: Bukan Semua Alasan, Tapi Juga Bukan Omong Kosong
Salah satu perbedaan besar antara Gen Z dan generasi sebelumnya adalah bahasa soal kesehatan mental. Generasi lama sering menahan tekanan dan menyebutnya kerja keras. Gen Z lebih berani memberi nama pada kondisi seperti burnout, anxiety, overwork, dan toxic workplace.
Tentu, istilah mental health bisa disalahgunakan. Ada orang yang memakai istilah itu untuk menghindari semua bentuk ketidaknyamanan. Tapi bukan berarti semua pembicaraan soal mental health harus dianggap lemah.
Dalam realita kerja Indonesia, banyak pekerja memang menghadapi tekanan tinggi: jam kerja panjang, perjalanan jauh, gaji terbatas, target berat, dan komunikasi atasan yang tidak selalu sehat. Kalau semua itu dikritik, tidak otomatis berarti Gen Z manja.
Mental health tidak boleh dijadikan alasan untuk lari dari tanggung jawab. Tetapi perusahaan juga tidak boleh memakai kata “mental baja” untuk membenarkan budaya kerja yang merusak manusia.
Masalah Utamanya: Ekspektasi Tidak Pernah Dibicarakan
Menurut saya, masalah terbesar antara Gen Z dan perusahaan bukan hanya soal karakter. Masalah utamanya adalah ekspektasi yang tidak dibicarakan dengan jujur.
Perusahaan berharap anak muda langsung tahan banting, cepat belajar, loyal, siap lembur, dan menerima target. Sementara Gen Z berharap perusahaan jelas, adil, komunikatif, fleksibel, memberi ruang berkembang, dan tidak memperlakukan mereka seperti mesin.
Dua-duanya punya harapan. Tapi sering tidak duduk bersama untuk membicarakan harapan itu sejak awal. Akibatnya, perusahaan kecewa karena merasa Gen Z tidak kuat. Gen Z kecewa karena merasa perusahaan tidak manusiawi.
Apa yang Harus Dilakukan Gen Z agar Lebih Kuat di Dunia Kerja?
Kalau kamu Gen Z yang sedang masuk dunia kerja, terutama sales dan marketing, kamu tidak perlu berubah menjadi generasi lama. Tapi kamu perlu membangun fondasi profesional yang kuat.
-
1
Belajar tahan proses Tidak semua hasil kerja langsung terlihat. Sales, karier, dan skill butuh pengulangan.
-
2
Bedakan toxic dan tidak nyaman Tidak semua hal yang tidak enak adalah toxic. Tapi hal yang merusak martabat dan kesehatan juga tidak boleh dinormalisasi.
-
3
Komunikasikan ekspektasi dengan dewasa Bertanya soal hak boleh. Tapi sampaikan dengan timing, bahasa, dan sikap profesional.
-
4
Gunakan keunggulan digital sebagai nilai jual Media sosial, AI, konten, data, dan tren digital bisa menjadi pembeda besar di dunia kerja.
Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan?
Perusahaan juga perlu beradaptasi. Kalau ingin merekrut dan mempertahankan Gen Z yang berkualitas, perusahaan tidak cukup hanya berkata, “Dulu kami juga susah.” Kalimat itu mungkin benar, tetapi tidak otomatis menyelesaikan masalah hari ini.
-
1
Perjelas jobdesk dan target Jangan berharap anak baru memahami aturan tidak tertulis yang tidak pernah dijelaskan.
-
2
Latih, bukan hanya menuntut Target tanpa training hanya membuat pekerja muda merasa dilempar ke lapangan tanpa bekal.
-
3
Bangun komunikasi dua arah Gen Z lebih responsif jika diberi alasan, konteks, dan ruang bertanya.
-
4
Manfaatkan kekuatan digital mereka Libatkan mereka dalam konten, media sosial, CRM, AI, dan strategi digital sales.
FAQ: Gen Z di Dunia Kerja Indonesia
Gen Z bukan generasi sempurna, tetapi juga bukan generasi rusak. Mereka adalah produk zaman digital, biaya hidup tinggi, ketidakpastian karier, dan perubahan cara kerja. Daripada hanya menyalahkan, lebih baik perusahaan dan pekerja muda belajar menyamakan ekspektasi.
Baca Artikel Karir Lainnya →